Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan

Tampilkan postingan dengan label Musik. Tampilkan semua postingan

Duo Berandalan Kembali ke Jalanan

Musisi kawakan Jogja Senna A.K.A Fredy Hadiyanto dan Foszilla A.K.A Fajar Adi berkolaborasi memulai sebuah petualangan baru. Bak duo racer berandal yang kembali ugal-ugalan di jalanan kota. Kali ini mereka menggeber mesin rock dengan hanya bersenjatakan bass dan drum. Dengan distorsi bass yang berputar kencang disertai dentuman beat drum yang liar mampu menaikkan adrenalin dengan intensitas tinggi. Mereka menyebut diri mereka Foggidy Acid.

Foggidy Acid dibentuk pada bulan agustus 2008 di Jogjakarta. Menamakan musik mereka dengan sebutan rock racer fantasia, ini merupakan pelabelan diri yang singkron dengan nuansa musik yang mereka mainkan. Rock racer fantasia menurut pengakuan Fredy lebih kepada racikan unsur unconventional-tuned di bass yang lebih banyak menggunakan distortion atau synthesizer cepat dan monoton. Di tambah dengan drum yang juga merupakan paduan antara pukulan surf rock dan riff giant beat.

Fredy hingga kini masih tercatat sebagai former Armada racun pada posisi vokalis dan bassist. Begitu pula dengan foszilla yang masih terus menggebuk drum dan membetot bass untuk Southern Beach terror dan Das Mustang. Duo ini mencoba mengeksplor sisi-sisi liar dalam pikiran mereka tentang musik rock yang simple namun tetap mamukau. Menjelajahi alam foggidy acid secara langsung kita akan diajaknya turut serta dalam alam pikiran kedua personel ini yang nakal. Mereka berbicara mengenai hal-hal simple yang jarang kita bicarakan seperti dalam lagu semalam mengantri di pom bensin. Beberapa tembang dalam EP Death of Corner Track Man menjadi soundtrack yang menarik untuk dinikmati dikala berkendara.

Dipublikasikan di www.ItsMusicBoxToday.com

Sebuah Ruang Perenungan Amnesiac Syndrome

salah satu band shoegaze Jogjakarta siap melaunching albumnya. Even launchingnya sendiri akan diselenggarakan di LIP. Ditemui disela-sela persiapan even tersebut redaksi mewawancarai dua personel Amnesiac, Risda (Gitar) dan Billy (gitar,vocal). Ide mengenai launching ini sendiri sebenarnya sudah mereka pikirkan sejak akhir tahun kemarin. Setelah melalui pemikiran yang panjang akhirnya mereka siap untuk melaunching album mereka pada tanggal 24 April 2009. ini sekaligus menjadi perkenalan kepada publik atas ide bermusik yang mereka usung.

Keterasingan adalah tema besar untuk acara launching album mereka Hard Rain in My Mind sekaligus menjadi konsep performance untuk aksi panggungnya. Tema Keterasingan (kesendirian) yang mereka angkat disini bukan berarti sebuah pesimisme artinya lebih lanjut Risda menjelaskan bahwa melalui kesendirian kita mampu menggali sisi-sisi optimisme. Kesendirian akan menjadi sebuah ruang perenungan untuk memikirkan kembali atas pilihan kita. Kita terbiasa untuk memilih apa yang terbaik untuk diri kita melalui proses keterasingan dan kesendirian. Terkadang mungkin kita akan asik sendiri untuk larut dalam sebuah kesendirian. Konsep semacam ini sebenarnya sejalan dengan musik oleh Amnesiac mainkan dan bisa terlihat jelas jika kita mendengarkan beberapa track di album barunya. Amnesiac menawarkan sebuah ruang perenungan atas diri masing-masing pendengarnya. Untuk performancenya mereka akan banyak bermain-main dengan simbol-simbol akan keterasingan dan kesendirian seperti fitting room, pantomim, siluet dan ekpresi gaya bermain yang lebih banyak diam (pasif). Untuk perform even ini amnesiac juga akan berkolaborasi dengan Ajie The Milo. Mengapa Ajie? Karena The Milo banyak menginpirasi amnesiac untuk berkarya, dalam ranah lokal The Milo menjadi sangat esensial bagi proses berrmusik Amnesiac. Sosok ajie mampu mewakili The Milo itu sendiri.

Amnesiac memandang even launchingnya ini sebagai sebuah pendokumentasian atas karya mereka selama ini. Ini adalah media untuk menyampaikan karya mereka ke publik. Berbicara masalah label yang menaungi mereka, secara gamblang mereka menjelaskan bahwa ide dan konsep untuk launching ini total berasal dari Amnesiac sendiri. Label hanya mengurusi sebatas produksi dan distribusi album. Jadi ide launching ini adalah murni dari amnesiac untuk khalayak.

Dipublikasikan di ItsMusicBoxToday.Com

Paket Bingkisan Dari Hellavilla

Hellavilla records dalam waktu dekat akan segera melaunching dua band yang berada di bawah naungannya dalam satu paket. Lex Luthor The Hero (LLTH) telah mengeluarkan LP nya yang berjudul A Random Act Of Violence, disusul kemudian Spiders Last Moment yang menelurkan EP nya berjudul A New Tradition. Bersama, mereka akan melaunching kedua karya mereka pada tanggal 26 April 2009 bertempat di MC2, salah satu distro di Jogja.

Ditemui disebuah kedai kopi di samping studio avilla, saya mewawancarai Aryo (gitaris SLM) dan Jay (Vokalis LLTH). Menurut penuturan mereka, konsep yang mereka usung untuk launchingnya adalah cross over genre. Tema ini diangkat karena mereka meyakini bahwa genre musik yang ada di Jogjakarta sangat bervariasi. Oleh karenanya, mereka tidak ingin terjebak pada sebuah acara yang hanya menghadirkan band-band dari genre sejenis karena akan berpotensi monoton bagi jalannya acara dan suasana jenuh hanya akan didapat penonton ketika melihat pertunjukkannya. Untuk mewujudkan ide tersebut, mereka menggandeng beberapa band pendamping lintas genre sebagai pembuka untuk acara launhing mereka. Sebut saja Suddenly Sunday, Boddah, End of Julia dan Angry Neighbour sebagai band yang didaulat oleh kedua band yang akan launching untuk turut serta meramaikan suasana stage.

Bulan April rupanya menjadi bulan yang produktif bagi musisi Jogja. Lihat saja agenda yang ada pada bulan ini, berturut-turut tanggal 24, 25 dan 26 akan ada beberapa band yang akan melaunching karya mereka. Tanggal 24 akan menjadi malamnya Amnesiac Syndrome, tanggal 25 juga akan diselenggarakan sebuah konser menarik dari Risky Summerbee and The Honey Thief, selanjutnya tanggal 26 kita alan disajikan acara launching dari Lex Luthor The Hero dan Spiders Last Moment. Menanggapi hal ini, Aryo dan Jay optimis akan masa depan musik Jogja, mereka bangga dengan perkembangan musik Jogja dan bisa menjadi menjadi bagian dari hal tersebut adalah sebuah catatan tersendiri.

Dalam launchingnya baik LLTH dan SLM mempunyai sebuah pesan yang ingin disampaikan pada khalayak. Launching ini bertujuan untuk memacu bagi musisi Jogja untuk terus berkarya. Adanya acara ini sekaligus menjadi sebuah pembuktian eksistensi mereka bahwa mereka ada dan punya karya. Suka atau tidak terhadap karya mereka itu soal lain. penting untuk digarisbawahi, semoga ini menjadi awal dari pembuktian dari karya mereka, bukan menjadi yang terakhir.

Dipublikasikan di ItsMusicBoxToday.Com